Thursday, July 20, 2017

Blogtour + Giveaway: Erstwhile - Persekutuan Sang Waktu


Erstwhile - Persekutuan Sang Waktu

Detail Buku
Judul: Erstwhile - Persekutuan Sang Waktu
Penulis: Rio Haminoto
Editor Cerita: Carolina Kartika Widyastuti
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama - M&C
Cetakan: pertama, 2017
Tebal: 368 halaman
ISBN: 9786024284855

Dibaca
15-17 Juli 2017

Review
Cerita dibuka dengan prolog tentang persiapan lelang yang diselenggarakan oleh Balai Lelang Christie's di New York. Objeknya yaitu beberapa lembar papirus, daun lontar, dan daluwang abad XIV yang ditemukan di pasar barang tua Saint Queen Paris. Lembaran-lembaran tersebut berisi jawaban atas asal-usul, tempat kelahiran dan kematian Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.

Kisah ini kemudian dimulai dengan latar Kota Florentia tahun 1300 M. Menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh utama novel ini, Picaro Donevanto--anak seorang pedagang besar Florentia--menceritakan asal mula kepindahan dia dan keluarganya ke Paris ketika umurnya 12 tahun.

Dia tidak pernah menikmati hari-harinya di Paris. Hingga suatu hari, Tuan Dubois--dosennya di Sorbone--membuatnya bersemangat karena telah memberinya buku yang menceritakan perjalanan Tuan Marco Polo ke Cathay (Cina).

Dan, melengkapi kebahagiaannya, hari itu juga dia bisa berkenalan dengan wanita yang selama ini hanya bisa dipandanginya dari belakang setiap Perayaan Ekaristi di Notre Dame. Namanya Solene de Morency. Sejak saat itu, Solene membantu Picaro menerjemahkan isi buku perjalanan Marco Polo.
"Aku ingin melihat dunia yang dilihat Tuan Marco Polo!" kata Solene dengan mata berbinar setelah satu tahun lebih kami menggenggam bersama catatan perjalanan Tuan Polo itu. Seketika itu juga aku menjawab, "Kita pergi besok ke Konstantinopel! Dari sana kita akan menuju Cathay!"
(Halaman 69)
Namun Solene tidak bisa melakukannya karena dia akan menikah dengan orang lain. Ayah Solene memiliki utang yang akan diselesaikan keluarga calon suami Solene. 
Solene berkata lagi, "Untuk segala yang tak akan pernah kulihat dan kuketahui, jadilah mata dan hatiku di tempat-tempat itu!" Kuresapi kalimat itu. Seakan setiap huruf terpatri di gendang telingaku menuju jantung dan membaur dalam darahku.
(Halaman 77)
Maka, pada usianya yang ke-18, Picaro bersiap di pelabuhan kota Marseille untuk berangkat menuju Jerusalem. Di Jerusalem dia bertemu dengan Tariq dan Kingsley. Lalu bersama pendeta Budha di Kerman, mereka berangkat menuju Srivijaya.

Pertemuannya dengan pedagang dari Cathay, Tuan Liem dan anaknya, membuatnya berubah pikiran. Mereka menunda perjalanan ke Cathay dan pergi ke Majapahit dengan harapan dapat menguasai perdagangan di Selat Sunda dan Selat Malaka. Karena itulah Picaro akhirnya bisa berhubungan dekat dengan anggota Kerajaan Majapahit dan bersahabat dengan Mahapatih Gajah Mada.

Di antara paparan panjang cerita sejarah yang menjadi latar novel ini, melalui sudut pandang orang ketiga, pembaca juga diajak untuk mengenal Raphael Harijono (Rafa) yang hidup di masa kini. Dia adalah seorang pengusaha Indonesia yang memiliki kegemaran berburu benda-benda sejarah untuk diserahkan ke Museum Nasional Jakarta.

Dalam usahanya memenangkan lelang naskah papirus dari abad ke-14, Rafa bertemu dengan Nyonya Magalie Vaillant, seorang wanita misterius yang sangat mengenal karakter Rafa.
"Jiwa kita berdua bukan tidak saling mengenal walau kita baru bertemu sekarang di kehidupan ini. Takdir telah menyatukan kita lagi pada hari ini!" kata Nyonya Vaillant.
(Halaman 83)
Buku ini memang cukup tebal. Namun temanya yang menarik membuat saya penasaran untuk terus menyelesaikannya hingga akhir. Perpaduan antara sejarah, kisah cinta, dan persekutuan waktu dalam novel ini memberikan pengalaman membaca yang berbeda dan menyenangkan.

Giveaway
Apakah teman-teman ingin mengetahui bagaimana akhir kisah Picaro dan Rafa ini? Apa hubungan antara Picaro, Rafa, dan Nyonya Vaillant? Siapa sebenarnya Mahapatih Gajah Mada? Baca sendiri ya biar seru. Ada satu buku Erstwhile - Persekutuan Sang Waktu dari penerbitnya untuk satu orang yang beruntung nih.

Persyaratannya mudah kok.
  • Tinggal di wilayah NKRI.
  • Like Fanpage Koloni atau follow Instagram @kolonipublishers 
  • Like Fanpage Nathalia Punya Cerita atau follow Instagram @sweetdonath (tidak wajib).
  • Share link blogtour dan giveaway ini di medial sosial serta cantumkan hashtag #GiveawayErstwhile dan mention akun di atas.
  • Menjawab pertanyaan berikut: 
Seandainya bisa bertemu dan berteman dengan tokoh sejarah, teman-teman ingin bertemu dan berteman dengan siapa? Sebutkan alasannya ya....
  • Jawaban ditulis melalui komentar pada postingan ini dengan format:
Jawaban:
Nama:
Akun Facebook:
Akun Instagram:
Link Share:
  • Giveaway berlangsung pada tanggal 20-26 Juli 2017. 
  • Pemenang akan diumumkan paling lambat pada tanggal 30 Juli 2017.

Yuk! Ikutan dan ajak teman-teman yang lain oke :)

Erstwhile - Persekutuan Sang Waktu

Read more >>

Monday, February 27, 2017

Resensi 100 Fakta Seputar Tidur @ Koran Jakarta

Alhamdulillah, resensi saya dimuat lagi di Rubrik Perada Koran Jakarta pada hari Rabu, 22 Februari 2017. Kali ini tanpa drama :D 

Berikut tulisan versi asli yang saya kirim.

~~~


Tidur Memengaruhi Kualitas Hidup

Detail Buku
Judul: 100 Fakta Seputar Tidur yang Perlu Anda Tahu
Penulis: Tim Naviri
Editor: Nailul Huda
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, 2016
Tebal: 415 halaman
ISBN: 978-602-8240-4

Resensi
Setiap hari, manusia memiliki waktu 24 jam. Idealnya, sepertiga dari waktu tersebut, yaitu 8 jamnya digunakan untuk tidur atau beristirahat. Dengan begitu, sisa waktunya dapat dijalani dengan baik. Namun biasanya sering kali muncul hal-hal tak terduga yang dapat mengurangi waktu tidur. Entah karena urusan pekerjaan atau memang mempunyai gangguan tidur sehingga tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Penulis mengawali buku ini dengan penjelasan mengenai hal-hal yang terjadi pada tubuh selama tidur. Di antaranya yaitu suhu tubuh menurun, tekanan darah dan detak jantung menurun, otot lumpuh sementara waktu, serta produksi kolagen meningkat.

Meski tampaknya sepele, tidur terbukti memiliki pengaruh yang besar. Bukan hanya pada kesehatan dan pikiran, namun juga terhadap aktivitas, kinerja, dan produktivitas.

Tidur dapat memengaruhi kecantikan kulit. Sebuah studi yang diprakarsai oleh Dr. Guy Meadows (pakar dalam bidang tidur) dilakukan untuk mengetahui perbedaan yang terjadi antara tidur 8 jam dan 6 jam. Setelah 5 malam, hasilnya, para relawan yang tidur hanya 6 jam setiap malam menunjukkan perubahan pada garis-garis halus dan kerutan yang meningkat hingga 45 persen, bintik hitam yang meningkat hingga 13 persen, dan kantung hitam di mata hingga 127 persen (hal 38).

Dalam hal kesehatan, tidur antara 7-8 jam secara teratur setiap malam dapat menyehatkan jantung sehingga akan membantu menenangkan sistem saraf dan menghilangkan stres akibat kesibukan kerja. Sebaliknya kurang tidur di malam hari dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan kanker usus besar. Hal itu disebabkan karena perbedaan tingkat hormon melatonin pada orang yang terkena cahaya lampu di malam hari (hal 57).

Cukup tidur dapat mengobati stres, yang secara tidak langsung dapat mengurangi risiko hipertensi. Selain itu, tidur nyenyak pada malam hari juga menjadikan sistem internal tubuh (seperti sistem kekebalan tubuh) menjadi lebih baik dan lebih waspada, sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit.

Dan ketika tidur di saat sakit kepala ataupun selesma, sel-sel tubuh menghasilkan lebih banyak protein. Molekul dalam tubuh membentuk blok bangunan untuk sel, yang memungkinkan mereka untuk memperbaiki kerusakan (hal 61). 

Tidur juga dapat memengaruhi produktivitas. Kemampuan berpikir yang berkurang dan sulit berkonsentrasi bisa disebabkan karena kurang tidur. Otak memanfaatkan waktu tidur untuk membersihkan toksin yang dihasilkan selama berpikir seharian. Maka, tidur yang cukup dapat menyegarkan otak kembali.

Kurang tidur dapat menyebabkan mudah lupa. Karena tidur malam dapat memperkuat hubungan antara sel-sel saraf otak, tempat terjadinya proses mengingat. Serta memperkuat memori yang melemah seiring berjalannya waktu.

Yang tidak kalah pentingnya, tidur dapat memengaruhi keharmonisan keluarga. Penelitian menemukan bahwa posisi tidur suami istri ikut menentukan tingkat keharmonisan rumah tangga. Pasangan yang tidur dengan posisi yang sarat kontak fisik dapat membuat hubungan semakin harmonis dan hangat. Kontak fisik yang dimaksud adalah tidur sambil berpelukan atau berpegangan tangan (hal 77).

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa orang yang tidurnya sering terganggu atau kurang cenderung memperlakukan pasangannya secara tidak baik. Tentu saja tidur yang cukup harus ditunjang dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, serta rasa cinta dan sayang.

Selain manfaat tidur, buku ini menjelaskan berbagai fakta menarik lain tentang tidur. Di antaranya yaitu serba-serbi tidur siang, masalah tidur seperti insomnia, mendengkur, sleep apnea (henti napas saat tidur), bruxism (mengertakkan gigi sewaktu tidur), dan sleep paralysis (tindihan), serta berbagai tip seputar tidur seperti tip menenangkan diri, tip menata cahaya, tip membentuk kebiasaan bangun pagi, hingga minuman dan makanan yang baik dikonsumsi sebelum tidur. Semuanya bersumber dari hasil riset dan penelitian para pakar di dunia.

~~~

Sedangkan tulisan versi yang sudah diedit oleh tim redaksi bisa dibaca di sini ;)


Read more >>

Wednesday, February 22, 2017

Review: Seri Aku Bisa Melindungi Diri


Suatu pagi beberapa hari yang lalu, di WA Group teman-teman SMA, seseorang membagikan dua halaman buku cerita anak berjudul Aku Belajar Mengendalikan Diri serta mengingatkan orang tua agar lebih berhati-hati dalam membeli buku anak. Tentu saja saya kaget melihatnya. Tetapi lebih terkejut lagi ketika menemukan nama penulis yang tercantum di sampul bukunya, Fita Chakra.

Masa sih? Fita Chakra merupakan seorang penulis buku anak dan remaja yang terkenal dan sudah memiliki banyak karya. Di rumah, saya memiliki beberapa bukunya, semuanya bagus dan berkualitas. Mbak Fita juga sama-sama blogger dan kami pernah beberapa kali saling mengunjungi blog masing-masing. Rasanya enggak percaya.

Namun setelah memerhatikan lebih lama, saya pun ingat. Sepertinya saya mempunyai bukunya. Maka saya pun segera mengecek di timbunan buku tumpukan buku yang belum dibaca. Betul, saya menemukan dua buku seri Aku Bisa Melindungi Diri karya Fita Chakra. Masih rapi terbungkus plastik. Ups, ketahuan deh kalau saya bukan cuma suka menimbun novel dan buku parenting, tetapi buku cerita bergambar untuk Jav juga, heuheu....

Jadi, seri Aku Bisa Melindungi Diri ini terdiri dari 6 buku. Satu buku memiliki dua cerita. Yaitu:
  • Aku Berani Bilang "Tidak" - Aku dan Penampilanku
  • Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis
  • Aku Bisa Menghubungi Nomor Darurat - Saat Aku Takut dan Bingung
  • Apa Itu Hamil? - Caraku Berpakaian di Tempat Umum
  • Jika Aku Menonton TV - Apa Beda Laki-Laki dan Perempuan
  • Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri

Bulan Januari kemarin, saya mendapatkannya dari sebuah toko buku anak online di IG. Namun saya hanya membeli dua buku seri ini, Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis dan Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri. Kenapa? Karena Jav belum tidur sendiri dan karena Jav belum dikhitan.


Detail Buku
Judul: Haruskah Aku Dikhitan? - Saat Aku Ingin Pipis
Penulis: Fita Chakra
Ilustrator: Sisca Anggreany
Editor: Dhita Kurniawan
Cetakan: pertama, Agustus 2016
Penerbit: Tiga Ananda
Tebal: 36 halaman
ISBN: 978-602-366-187-9


Haruskah Aku Dikhitan?
Bercerita tentang Seto yang diajak pergi oleh ayahnya mengunjungi klinik Om Dani. Ternyata hari itu sedang diadakan khitan gratis untuk anak-anak panti asuhan. Seto pun mendapat penjelasan mengenai khitan dari Om Dani.


Saat Aku Ingin Pipis
Lio sedang berkemah bersama teman-temannya. Malam harinya, Lio ingin pipis, tapi Adi tidak mau menemaninya pergi ke toilet karena mengantuk. Padahal jalan ke arah toilet sangat gelap. Maka Lio memutuskan untuk pipis di dekat pohon saja.


Detail Buku
Judul: Aku Berani Tidur Sendiri - Aku Belajar Mengendalikan Diri
Penulis: Fita Chakr
Ilustrator: Adlina
Editor: Dhita Kurniawan
Cetakan: pertama, September 2016
Penerbit: Tiga Ananda
Tebal: 36 halaman
ISBN: 978-602-366-191-6


Aku Berani Tidur Sendiri
Hari ini Azan berulang tahun. Ayah memberi hadiah sebuah kamar. Namun Azan merasa kecewa karena dia takut tidur sendiri. Ayah pun menjelaskan kenapa Azan harus tidur terpisah dengan adiknya, Awfa.


Aku Belajar Mengendalikan Diri
Didi tidak bisa tidur siang. Karena bosan, dia mulai memainkan alat kelaminnya. Untung Bunda datang dan menjelaskan kenapa kegiatan tersebut tidak baik.

Cerita ini nih yang menjadi viral di kalangan para orangtua. Soalnya, yang tersebar hanya dua halaman ketika Didi memainkan alat kelaminnya. Padahal apabila dibaca secara keseluruhan, cerita tersebut justru memberitahu anak bahwa perbuatan memainkan alat kelamin itu tidak baik untuk kesehatan.

Meskipun selanjutnya isi lengkap bukunya, klarifikasi penulis, dan permintaan maaf penerbit sudah tersebar juga, tetap saja menimbulkan kontroversi. Secara umum, yang pro mengatakan bahwa penting memberikan pendidikan seksualitas sejak dini. Sedangkan yang kontra menganggap bahwa hal tersebut sebaiknya disajikan dalam bentuk buku parenting, bukan buku cerita bergambar untuk anak.

Lalu apakah saya berniat untuk mengembalikan buku tersebut ke penerbit? Enggak dong. Soalnya isinya memang bagus. Sangat membantu serta bisa menciptakan diskusi antara saya dan Jav tentang hubungan kakak-adik, bedanya khitan dengan mencuci biasa, berani meminta tolong pada guru, dan lain-lain. Saya--dan Jav juga tentunya--suka banget.

Namun sebagai orangtua yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan bacaan bagi anaknya, jujur, saya dan suami memilih untuk tidak membacakan cerita Aku Belajar Mengendalikan Diri untuk Jav (6 tahun). Bukan karena tabu, bukan karena kami anti menanamkan pendidikan seksualitas sejak dini (Jav mempunyai beberapa buku lain dengan tema ini), bukan pula karena saya belum pernah melihat dia memainkan alat kelaminnya (pernah, beberapa tahun yang lalu). Kami bukan psikolog anak. Tapi kami dapat melihat karakter Jav cenderung lebih tertantang untuk meniru hal-hal yang negatif.

Contohnya, ketika saya membacakan buku cerita bergambar tentang seorang anak yang tidak suka makan sayur. Alhamdulillah Jav termasuk anak yang suka makan sayur. Sayur favoritnya yaitu brokoli. Tapi setelah membaca buku tersebut, Jav malah jadi terinspirasi malas makan sayur. "Ali juga enggak suka sayur." Aargh, gemas deh. Padahal jelas-jelas di akhir cerita ujung-ujungnya Ali jadi suka makan sayur. Fiuh.... Harus dibujuk lagi, diceritain lagi, diskusi lagi. Yah, begitulah salah satu 'keseruan' kami dalam mendidik Jav.

Terus kesimpulannya? Saya pribadi sangat mengapresiasi niat baik penerbit dan penulis untuk menyediakan buku bermuatan pendidikan seksualitas bagi anak usia dini. Apalagi penerbit juga sudah menarik buku ini beberapa bulan sebelum kemudian menjadi viral (Desember 2016). Jadi, seharusnya sekarang sudah enggak jadi masalah lagi kan ya.

Bagi para orangtua, daripada hanya menyalahkan penerbit atau penulis, lebih baik introspeksi diri juga. Yuk biasakan mengecek terlebih dahulu serta mendampingi anak ketika membaca buku. Baik buku tersebut memiliki label 'Bimbingan Orangtua' ataupun tidak. Saya pernah sedikit membahasnya di sini. Sehingga harapannya buku yang dikonsumsi oleh anak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga. Karena setiap keluarga mempunyai nilai dan batasan masing-masing bukan.

Untuk Mbak Fita, tetap semangat berkarya ya. Saya--dan Jav--menunggu buku-buku berikutnya ;)

Read more >>

Monday, February 20, 2017

Resensi The Geography of Faith @ Koran Jakarta


Galau. Saya bingung entah harus senang atau sedih. Pastinya senang banget dong ketika mengetahui bahwa resensi saya dimuat lagi di Rubrik Perada Koran Jakarta. Tapi karena terbitnya hari Sabtu, 14 Januari 2017, maka tulisan saya tersebut enggak muncul di versi online-nya. Enggak dapat bukti terbitnya deh :(

Read more >>

Sunday, February 12, 2017

Review: Yesterday in Bandung


Detail Buku
Judul: Yesterday in Bandung
Penulis: Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan: pertama, Januari 2016
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-02-7861-2
Harga: Rp 54.800

Review
Meskipun disusun oleh lima orang penulis, buku bersampul merah ini bukan sebuah kumpulan cerita pendek ataupun kumpulan novelet. Tetapi sebuah novel yang merupakan outline naskah terbaik workshop "Berbagi Cinta Lewat Kata".

Masing-masing penulis menuturkan kisah tentang lima karakter utama yang tinggal bersama dalam sebuah rumah kos di Bandung. Melalui sudut pandang orang pertama dan gaya bahasa tiap penulis yang unik dan berbeda, mereka berhasil menyajikan kisah persahabatan para tokohnya dalam sebuah jalinan cerita yang utuh dan padu.

Tokoh pertama yaitu Shaki. Gadis cantik ini merupakan mahasiswa baru di ITB yang menghuni kos di kamar 04. Dia berasal dari Palembang. Meskipun dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang kaya, namun memiliki sifat sederhana dan rendah hati. Sejak kedatangan Shaki, penghuni kos yang lain sering merasakan betapa nikmat hasil masakannya.

Tokoh selanjutnya yaitu Zain. Pemuda yang menghuni kos di kamar 02. Dia berasal dari Pandeglang dan pergi merantau ke Bandung karena berhasil lulus SNMPTN di UNPAD. Zain maupun keluarganya sedang menjalani kondisi ekonomi yang sulit. Beruntung, seorang kerabat meminjami dan membayari Zain sebuah kamar di tempat kos yang mewah. Keberadaan Zain selalu menghangatkan suasana kos karena dia senang bermain basket atau bermain gitar di taman.

Kemudian ada Tania. Gadis ceria yang menghuni kos di kamar 03. Sebenarnya keluarganya tinggal di Bandung. Namun karena keadaan kedua orang tuanya yang sibuk dan tidak pernah berada di rumah, serta karena merasa hidupnya selalu diatur, maka Tania memutuskan untuk tinggal di tempat kos.

Lalu ada Dandi. Dia menghuni kos di kamar 01. Meskipun usianya masih muda, Dandi tidak meneruskan kuliah, tetapi ikut bekerja bersama omnya di sebuah perusahaan properti. Pemuda tampan ini tidak banyak berbicara, namun selalu jeli memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya.

Terakhir yaitu Aline. Wanita pemilik kos yang cantik dan anggun. Pekerjaannya sebagai penerjemah membuat dia sering tinggal dan melakukan yoga di rumah. Aline membuat seluruh penghuni kos penasaran karena di usianya yang sudah menginjak 35 tahun, dia belum menikah.

Suatu sore, semuanya berkumpul di taman. Zain yang berkonsentrasi tinggi memetik gitar, Dandi yang menepuk-nepuk paha berpura-pura menabuh drum, Tania yang menyanyi-nyanyi riang, juga Shaki yang hanya bertepuk tangan sambil tersenyum malu-malu (hlm 66). Sedangkan Aline hanya menjadi penonton. Ketika itu, lagu The Beatles--Yesterday--resmi dijadikan sebagai lagu persahabatan mereka bersama.

Mereka berlima memang tampak baik-baik saja (hlm 70). Padahal ternyata ada masalah besar yang sedang disembunyikan. Shaki, membenci ayahnya yang terlibat kasus korupsi. Adapun Zain, terpaksa harus terjebak dalam pergaulan hitam karena kondisi keuangan keluarganya. Kemudian Tania, memiliki pengalaman menyakitkan dengan mantan pacarnya. Begitu juga Dandi yang sulit lepas dari bayang-bayang masa lalu. Sedangkan Aline, memiliki masalah dengan kesehatannya. Perlahan, masalah tersebut mulai terkuak. Mereka pun saling menguatkan.

Kebersamaan tersebut juga menerbitkan perasaan cinta pada beberapa pihak. Dandi menyayangi Shaki karena mengingatkannya pada seseorang di masa lalu. Padahal Shaki justru menyukai Zain yang selalu membantunya di saat-saat sulit. Adapun Zain malah tertarik pada Aline yang dewasa.

Novel ini menarik. Bukan hanya karena ditulis oleh lima kepala yang berbeda. Tetapi juga karena menyajikan bagaimana suka duka menjadi anak kos. Di satu sisi ada kisah persahabatan yang saling menabahkan. Namun di sisi lain, harus tetap saling menghormati, membantu sahabat tanpa melanggar privasinya.

Begitu juga ketika dibumbui dengan masalah percintaan, perlu diingat bahwa cinta tidak bisa dipaksakan (hlm 248).

Read more >>

Friday, December 16, 2016

Baca Buku Suka-Suka Melalui SCOOP Premium

scoop premium

Teman-teman pasti sudah tahu SCOOP kan? Itu loh platform e-reader pertama dan terbesar di Indonesia. Melalui aplikasi ini, kita bisa mencari, membeli, dan membaca koran, majalah, atau buku dalam format digital. Pengguna iOS bisa mengunduhnya di App Store, sedangkan bagi pengguna Android bisa mengunduhnya di Google Play Store.

Memang sih, membaca koran, majalah, apalagi buku dalam format cetak lebih menyenangkan. Sensasi menghirup harum kertasnya enggak tergantikan, hihihi.... Namun membaca dalam format digital ternyata enggak kalah asyik loh.

Pertama lebih hemat, karena harganya lebih murah. Apalagi SCOOP ini sering menawarkan berbagai promo menarik. Cara pembayarannya bisa melalui ATM Transfer, Visa dan Mastercard, TCASH, XL Tunai, CIMB Clicks, BCA Klikpay, Mandiri E-Cash, serta Mandiri Clickpay. Kedua lebih praktis, karena ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Serta ketiga tentu saja lebih ramah lingkungan, karena menghemat kertas dan kapasitas lemari.

Tapi kan enggak betah membaca lama-lama di ponsel atau tablet? Hmmm, selain menggunakan fitur Bluelight Filter pada ponsel, saya juga memanfaatkan pengatur cahaya yang terdapat pada aplikasi SCOOP. Jadi rasanya tetap nyaman di mata. 

Nah, sekarang ada program seru nih dari SCOOP, namanya SCOOP Premium. SCOOP Premium pertama kali diluncurkan pada bulan Juni 2015. Pelanggannya bisa mendapatkan akses terhadap ribuan edisi majalah. Mulai bulan November 2016 kemarin, SCOOP Premium melebarkan sayapnya. Pelanggannya enggak hanya bisa mendapatkan akses terhadap ribuan edisi majalah, tetapi juga diberikan keleluasaan tambahan untuk menikmati lebih dari 13.000 buku terbitan Kompas Gramedia Group dalam satu masa langganan. Biaya berlangganannya yaitu Rp 129.000 Rp 89.000 per bulan. 

Saya sudah mencobanya nih. Puas banget! Berikut beberapa keunggulan yang terdapat pada SCOOP Premium.
  • Menyediakan ribuan judul majalah dan buku-buku best seller. Tere Liye, Eka Kurniawan, Sophie Kinsella? Ada....
  • Menyediakan berbagai macam topik bacaan dari berbagai penerbit. Parenting, politik, agama, kesehatan? Lengkap....
  • Dapat mengunduh buku sehingga bisa dibaca meskipun sedang offline. Jadi enggak mati gaya lagi kalau lupa membawa buku dan enggak mendapat sinyal internet.
  • Satu akun dapat digunakan pada lima gawai yang berbeda. Sementara ini, saya baru memanfaatkan dua ponsel. Ponsel pertama isinya novel-novel kesukaan saya. Sedangkan ponsel kedua isinya buku-buku cerita bergambar favorit Jav. 
  • Bisa dibatalkan kapan saja dan enggak akan dikenakan biaya penalti.

scoop premium
Kiri: koleksi buku saya - Kanan: koleksi buku Jav
Dalam jangka waktu dua puluh hari, saya sudah menamatkan 6 judul novel. Masih ada sepuluh hari lagi. Coba kalau uang berlangganan SCOOP Premium-nya digunakan untuk membeli buku dalam format cetak. Rp 89.000 paling hanya bisa mendapatkan 1-2 buah buku. 

So, enggak ada lagi kan alasan buat malas membaca buku? Sudah hemat dan praktis banget deh berlangganan SCOOP Premium ;)

scoop premium

Read more >>

Tuesday, November 22, 2016

Review: The Geography of Faith


Detail Buku
Judul: The Geography of Faith - Pencarian Tuhan di Tempat-Tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet sampai Yerusalem
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penyunting: Zahra Haifa
Penerbit: Penerbit Qanita
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 500 halaman
ISBN: 978-602-402-040-8
Harga: Rp 85.000

Review
Kesan pertama saya ketika melihat buku ini yaitu "Aih, lucunya...." Lihat saja desain sampul depannya yang cute banget. Jav juga sampai ikutan suka dan asyik bermain mobil-mobilan di atas permukaannya. Namun kesan tersebut langsung berkurang setelah saya membaca judulnya, duh berat banget temanya. Apalagi saat mengetahui jumlah halamannya, wuih sangat tebal. 

Tetapi kenyataan tersebut tidak mengurangi minat saya untuk membaca isinya. Saya memang belum pernah membeli dan membaca buku-buku filsafat, makanya penasaran. Dan ternyata seru juga sih. 

Jadi, buku yang memiliki judul asli Man Seeks God: My Flirtation with The Divine ini merupakan memoar dari penulisnya, mantan koresponden untuk National Public Radio (NPR). Semuanya berawal dari pertanyaan seorang suster di rumah sakit, "Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?"
"Kenapa?" tanyaku begitu aku bisa bernapas lagi. Apakah tak lama lagi aku akan berjumpa dengan-Nya? Apakah kau telah melihat CT scan-ku? Kau tahu sesuatu? Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan ekspresi bijak dan seolah-olah tahu akan sesuatu, lalu meninggalkanku sendirian bersama pikiran kalut serta jubah pasien yang tidak memadai ini. 
(Halaman 15)
Rupanya, dia tidak mengidap penyakit kanker atau penyakit mematikan lainnya, hanya gangguan pencernaan. Namun pertanyaan suster tadi terus mengganggunya. Dia terlahir sebagai orang Yahudi, tetapi masih sangat meragukan eksistensi Tuhan.
Karena sepertinya tak ada kategori spiritual yang cocok untukku, aku merasa harus menciptakannya: Confusionist. Diambil dari kata confused atau bingung, kami Confusionist memang bingung--amat sangat bingung--dalam soal Tuhan dan agama.
(Halaman 18)
Maka selanjutnya dia pun mencari tahu ada berapa banyak Tuhan dan agama di dunia ini. Kemudian panik setelah mengetahui bahwa saat ini sudah terdapat sembilan ribu sembilan ratus agama, dengan dua atau tiga agama baru muncul setiap hari. Akhirnya dia mencetak daftar agama tersebut serta menyortirnya. Hingga hanya tersisa delapan keyakinan.

Delapan aliran kepercayaan tersebut yaitu Sufisme, Buddhisme, Fransiskan, Raelisme, Taoisme, Wicca, Syamanisme, dan Kabbalah. Tidak tanggung-tanggung, dia pun melakukan perjalanan ke berbagai kota-kota sumbernya dan mencari pembimbing untuk lebih mengenal delapan aliran kepercayaan yang telah dipilihnya.
Aku sengaja tidak memilih agama secara utuh, tetapi sedikit irisannya. Irisan Tuhan.
(Halaman 33)
Kota pertama yang dia kunjungi yaitu Istanbul di Turki. Tempat Rumi--sang pujangga Islam--menuliskan syairnya dan tempat asal para darwis yang berputar. Di kota ini penulis berusaha untuk berlatih sema, upacara berputar.
Sema bukanlah tarian. Sema adalah semacam kemurnian, namun pengertiannya sukar dijabarkan dengan kata-kata. Sema seperti mencicipi buah. Sulit dijelaskan, tetapi lezat. Sema adalah saat kesadaran menjadi murni. Saat hatimu berubah dengan terus-menerus berzikir, mengingat Allah.
(Halaman 88)
Kota selanjutnya yaitu Kathmandu di Nepal. Kota tersebut memiliki sejarah agama Buddha yang dalam. Di sini penulis belajar untuk bermeditasi.
'Agama' berasal dari bahasa Latin religio, yang artinya 'mengikat', tetapi Buddhisme justru menjunjung ketidakterikatan. Buddhisme agama yang melepaskan--melepaskan konsep jiwa, Tuhan, dan akhirnya dirimu sendiri.
(Halaman 175)
Kota berikutnya yaitu New York di Amerika Serikat. Pada sebuah penampungan tunawisma di Bronx Selatan, dia belajar untuk lebih mengenal Fransiskan, ordo Katolik.
Fransiskus percaya bahwa kita harus mengosongkan diri--dari harta benda, gagasan, kebanggaan--sebelum Tuhan bisa memasuki kehidupan kita. Bagi Fransiskus, kemiskinan tidaklah merepresentasikan perbudakan, tetapi kebebasan, karena dengan tidak memiliki apa-apa, kita tak perlu mempertahankan apa-apa.
(Halaman 207)
Penulis kemudian menghadiri pertemuan Raelian yang mewah di Las Vegas. Raelian adalah agama terbesar berbasis UFO. Mereka percaya bahwa semua makhluk hidup di bumi diciptakan oleh Elohim.
Raelian memuja teknologi secara ekstrem ('Sains adalah agama kita'), tetapi bukankah kita semua seperti itu? Bukankah kita memandang teknologi--bukan teknologi tertentu, tetapi konsep teknologi itu sendiri--nyaris sebagai kekuatan ilahi untuk kebaikan di muka bumi? Teknologi bukan hanya agama kita, melainkan sihir kita.
(Halaman 282)
Perjalanan pencarian Tuhan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti tur agama Tao di Wuhan, Cina. Penulis berharap di kota ini dia dapat memperbaiki chi-nya yang bermasalah. 
Taoisme, berkisar pada mengosongkan diri dari segala keterikatan, pengetahuan, konsep, ambisi--semua itu, dan lebih lagi, hingga kita menjadi cangkang kosong. Tao mengisi lubang berbentuk Tuhan dengan Tuhan berbentuk lubang.
(Halaman 317)
Karena mempunyai ketertarikan pada sihir, maka penulis pun belajar mengenal Wicca pada seorang penyihir di Washington D.C.
Wicca adalah agama yang sangat demokratis. kita memilih sendiri dewa atau dewi yang ingin disembah, memilih bagian permata yang akan dipandangi, dan tak akan ada yang tersinggung. Tak akan ada Tuhan yang cemburu.
(Halaman 350)
Masih di kota yang sama, Washingtong D.C., penulis mengikuti Lokakarya Syaman. Dia mencoba praktik spiritual Syamanisme.
Kekuatan syaman terletak pada kemampuan mereka kesurupan sesuka hati dan mencapai tingkat kesadaran yang berbeda, dengan atau tanpa bantuan psikotropika.
(Halaman 379)
Kemudian terakhir, penulis menutup pencariannya dengan mengunjungi Tzfat (juga dieja Safed), kota kecil di kawasan pinggiran Tel Aviv, Israel untuk memahami Kabbalah.
Kabbalah (dan Yahudi secara umum) adalah tikkun, atau 'memperbaiki'. Pengikut Kabbalah percaya kita memiliki tugas unik untuk membantu memperbaiki dunia dengan memperbaiki diri kita, kesadaran kita.
(Halaman 437)
Meskipun diterjemahkan dengan sangat baik, namun saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melahap isi buku ini. Selain karena tebal, buku ini juga memberikan wawasan baru yang menurut saya cukup luar biasa--bahkan agak ajaib di beberapa bagian. Tetapi secara keseluruhan, isi buku ini sangat menarik. Mengandung kebijaksanaan yang mencerahkan, sindiran yang menohok, sekaligus humor yang menghibur. 

Rating
Tiga setengah dari lima bintang.

Read more >>